Lampu merah di perempatan jalan nggak juga berubah menjadi hijau. Mila udah nggak sabar karena sebentar lagi dia telat masuk kantor. Udah dua kali Mila ditegur pak Dani atasannya di kantor gara-gara dia telat masuk. Sebenarnya alasannya tiap kali telat adalah sama yaitu dia kesiangan bangun karena penyakit imsomnianya.
Seseorang mengetuk kaca mobil Mila sambil mengulurkan tangan. Tampak seorang lelaki tua berbaju compang camping dan berwajah kusut. Mungkin saja bapak tua ini udah nggak makan dari kemarin, pikir Mila dengan perasaan iba. Untuk kedua kalinya bapak tua itu mengetuk kaca mobil Mila. Mila mengambil selembar uang ribuan di dashboard dan membuka kaca mobilnya.
“Terimakasih nak,semoga rejekinya lancar!” kata bapak tua itu setelah menerima uluran uang ribuan dari Mila.
“Amin pak” sahut Mila sambil tersenyum. Bapak tua itu pergi dengan langkah tertatih-tatih. Mila masih terus memandangi kepergian pengemis itu sampai nggak sadar kalo lampu udah hijau. Bunyi klakson mobil di belakangnya mengagetkan Mila. Mila buru-buru tancap gas memburu waktu biar nggak telat masuk kantor lagi.
Pengemis tua tadi mengingatkan Mila pada seseorang yang pernah mengisi hari-harinya sewaktu masih kuliah dulu. Waktu itu dia masih kuliah di semester empat jurusan teknik telekomunikasi. Dia mempunyai pacar bernama Abadi kakak senior dua tingkat di kampusnya. Dia seseorang yang begitu dewasa dan perhatian. Sudah setahun mereka berpacaran bahkan orangtua keduanya sudah saling menyetujui hubungan mereka.
Sebagai anak kost yang jauh dari orangtua kehadiran kak Abadi seperti seorang kakak bagi Mila. Apalagi kak Abadi begitu baik membantu semua kesulitan yang Mila hadapi. Maklum Mila anak tunggal jadi Mila begitu manja dan gampang ngambek. Namun kak Abadi begitu sabar dan nggak pernah marah menghadapi Mila yang terkadang menyebalkan. Mungkin kak Abadi maklum karena Mila biasa dimanjakan oleh kedua orangtuanya.
“La,kamu udah makan?” tanya kak Abadi ketika sewaktu Mila tengah sibuk mengerjakan tugas dikomputer. Seperti biasa Mila numpang mengerjakan tugas-tugasnya di komputer kak Abadi karena laptopnya hilang. Udah ketiga kalinya laptop Mila hilang karena keteledorannya dalam menaruh barang.
“Belum!” jawab Mila masih tetap sibuk mengetik.
“Berarti dari tadi siang kamu belum makan?” kak Abadi kemudian mendekati Mila.
“Belum!” Mila menjawab dengan entengnya.
“Ya ampun La,ntar kalo kamu sakit lagi gimana?kamu kan punya sakit maag?” kak Abadi terlihat panik.
“Tapi Mila nggak laper kak!” Mila mulai manja.
“Meski nggak laper tapi kamu tetep harus makan dengan teratur tiga kali sehari. Ntar kakak yang dimarahi mamamu kalo kamu sampe sakit gara-gara telat makan!” kak Abadi mengambil mouse di tangan Mila dan mematikan komputernya dengan paksa.
“Ah,kakak! Kan tanggung tinggal dua lembar lagi” Mila kumat lagi merajuknya. Bibirnya mulai manyun dan mukanya cemberut.
“Kan bisa diterusin besok, atau ntar malam biar kakak yang ngerjain deh!” bujuk kak Abadi biar Mila nggak ngambek lagi.
“Ya udah, terus kita mau makan apa nih?” Mila masih terlihat ngambek.
“Sate” kata kak Abadi sambil memakai jaket kesayangannya.
“Bosen!” sahut Mila pura-pura padahal sate adalah makanan kesukaannya dari kecil.
“Udah nggak usah kebanyakan ngeles! Ayo berangkat” kak Abadi menarik Mila dan memboncengnya dengan motor Satrianya.
Motor kak Abadi melaju kencang menembus keramaian kota Purwokerto di malam minggu. Angin malam berhembus dan mulai terasa dingin. Mila merapatkan pelukannya di pinggang kak Abadi yang begitu jangkung. Di sebuah perempatan kak Abadi menghentikan motornya karena lampu merah menyala. Seorang lelaki tua memakai caping mendekati mereka, dia mengulurkan tangan meminta sedekah. Mila pura-pura sibuk melihat baliho besar di perempatan jalan yang mengiklankan konser sebuah grup band yang terkenal.
“La,ada uang seribuan nggak?” tanya kak Abadi berbisik.
“Nggak ada!” Mila berbohong padahal ada sekitar empat lembar seribuan di dompetnya.
“Duh kakak juga nggak ada!” kak Abadi sibuk merogoh saku celana jeansnya tapi nggak menemukan apa-apa. Kemudian menyodorkan uang lima ribu yang di ambil dari dompetnya.
“Terima kasih banyak! Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya!” pak Tua pengemis itu menciumi uang yang diberikan kak Abadi dengan begitu terharu.
“Amin pak! Sama-sama” kak Abadi tersenyum tulus. Lampu hijau menyala, kak Abadi tancap gas lagi menuju warung sate Madura langganan mereka.
Setelah memesan dua piring sate beserta teh manis hangat mereka duduk di bangku yang masih kosong. Kebetulan warung sate malam ini sedang ramai pembeli.
“Kak, kenapa sih tadi pake ngasih pengemis itu lima ribu kao emang nggak ada uang ribuan?” Mila memakan satenya dengan lahap karena sebenarnya dia lapar sekali.
Kak Abadi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Mila barusam.”Emang nggak boleh ya ngasih pengemis lima ribu?”.
“Sekarang ini ya kak, banyak pengemis bohongan yang pura-pura cacat atau menderita biar dikasihani. Padahal sebenarnya mereka sehat-sehat aja cuma karena males kerja jadi keenakan mengemis!” celoteh Mila sampai mulutnya belepotan bumbu sate.
“Kakak tau kog!”
“Lha trus kenapa tadi ngasih lima ribu? Kesenengan banget pengemisnya”
“Menurut kamu pengemis tadi bohongan apa nggak?” pertanyaan kak Abadi membuat Mila terdiam sesaat.
“Ehm,nggak tau kak!kayaknya sih bohong nyatanya cara jalannya sehat-sehat aja nggak pincang-pincang”
“Kira-kira umur bapak tua tadi berapa?” tanya kak Abadi lagi.
“Mungkin lima 60 atau 70 tahun!” jawab Mila mengira-ira.
“Kamu bisa bayangin nggak orang umur segitu yang seharusnya menikmati hari tuanya di rumah dan dirawat oleh anak-anaknya masih harus meminta-minta di jalanan padahal hari udah malam” kata-kata kak Abadi begitu dewasa.
“ Ya berarti salah anak-anaknya dong Kak!” Mila berkata spontan.
“Ok, mungkin emang anak-anaknya yang salah! Tapi seandainya kakek nenek kita atau orang tua kita yang mengalami hal itu gimana? Harus meminta-minta di jalanan hanya sekedar buat makan, bersyukurlah kita ini hidup dalam keadaan berkecukupan masih bisa makan sate seperti sekarang!” kak Abadi menunjukkan satu tusuk sate kepada Mila yang manggut-manggut.
“Iya kak, Mila nggak bisa bayangin seandainya papa seperti pengemis tua tadi!” Mila mulai iba dengan pengemis tadi dan merasa bersalah telah berbohong tentang uang ribuan tadi.
“Derajat pengemis paling rendah diantara pekerjaan-pekerjaan lain, mereka rela mempertaruhkan harga diri mereka untuk meminta-minta padahal sebenarnya tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah! Ya nggak?” Mila mengangguk-angguk mendengar nasihat kak Abadi yang menyejukkan hati.
“Makanya kita sebagai orang-orang yang diberi kehidupan yang berkecukupan harus selalu bersyukur bisa sekolah, bisa kemana-mana naik kendaraan, bisa makan tiga kali sehari, dsb. Kita juga harus kuliah yang rajin biar bisa bekerja dan juga harus merawat kedua orang tua kita waktu di hari tua mereka! Jangan sampailah mereka terlantar sehingga terpaksa mengemis karena udah nggak kuat bekerja lagi” kak Abadi tersenyum ketika melihat Mila masih manggut-manggut mendengar setiap ceramahnya.
“Iya kak!Mila paham sekarang. Mila udah salah mengartikan keadaan pengemis tadi” kata Mila malu.
“Makanya meski cuma lima ratus atau seribu itu sudah amat berharga bagi mereka, padahal mungkin bagi kita uang segitu cuma cukup buat parkir!”
“Iyalah! Buat beli mie instant aja sekarang nggak cukup” sahut Mila sambil tertawa.
“Nah kalo gitu kenapa kita harus pelit?selama niat kita sedekah biar ajalah pengemis-pengemis itu bohongan atau nggak. Allah yang akan mencatat amal ibadah kita dan memberikan balasan pada mereka yang pura-pura” Deg! Kata-kata kak Abadi barusan membuat wajah Mila merah padam karena malu dengan kebohongannya tentang uang ribuan tadi.
“Kak, sebenernya tadi Mila udah bohong sama kakak!” kata Mila malu.
“Tentang apa?” kak Abadi sedang menyeruput tehnya.
“Tentang uang ribuan tadi. Sebenernya Mila punya uang ribuan di dompet! Empat lembar ” Mila menunduk karena malu akan kebohongannya.
“Kakak udah tau kog!kan pas kamu beli es krim di depan kost, uang kembaliannya ribu-ribuan ” kak Abadi tertawa.
“Ahh! Kakak kenapa diem aja dari tadi kan Mila jadi malu” Mila mencubiti lengan kak Abadi.
“Kakak kan cuma ngetes kejujuran kamu!” Kak Abadi menghindar dari serbuan cubitan Mila.
“Ihh..Mila kan tadi males ngambil dompet dari saku kak” Mila mencubit kak Abadi untuk yang kesekian kalinya dengan gemas.
“Aduhhh..udah dong nyubitnya!sakit nih” kak Abadi mengusap-usap lengannya yang perih.”
“Mila sayang kak Abadi!” kata Mila sambil memeluk pinggang kak Abadi erat ketika membonceng motor mau pulang ke kost.
“Kakak juga sayang banget sama kamu!” kak Abadi menggenggam dua tangan Mila yang memeluknya.
Mila tersadar dari lamunannya, nggak terasa air mata meleleh dibalik kacamatanya. Kini kak Abadi pacarnya yang juga suaminya telah tiada. Kak Abadi meninggal karena kecelakaan. Waktu itu hujan sangat lebat, kak Abadi yang bekerja di kota lain berencana pulang untuk bertemu Mila. Karena jalanan licin serta pandangan kurang jelas gara-gara hujan kak Abadi tergelincir dan ditabrak truk dari arah belakang. Kak Abadi sempat koma dan akhirnya meninggal dunia seminggu kemudian.
Setahun telah berlalu sejak kecelakaan itu tapi Mila masih belum bisa melupakan semuanya. Sepertinya ini hanya mimpi buruk dan Mila ingin segera bangun. Setiap malam Mila nggak bisa tidur dan terus terbayang-bayang sosok kak Abadi. Kak Abadi akan selalu abadi di hati Mila. Kebaikan dan nasihat-nasihatnya akan selalu terkenang sampai kapanpun. Selamat jalan cintaku Abadi.
THE END


1 komentar:
Play the Best Real Money Casino Sites in 2021
The Best Online Casinos of 2021 · 1. 온카지노 InterTops - Best Overall Casino · 2. InterTops 인카지노 - Top Rated Casino · 3. Vegas Slots Casino 제왕 카지노 · 4. Red Dog - Best Overall
Posting Komentar